Artikel


Krebet adalah sentra industri batik kayu yang mempunyai potensi kepariwisataan baik dari sisi budaya maupun alamnya. Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan Krebet sebagai Desa Wisata. Sedangkan memalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi bersama Kementrian Perindustrian Republik Indonesia telah memfasilitasi Pengembangan Klaster Batik Kayu Krebet. Fasilitasi pelatihan dan alat, serta pameran telah diberikan demi berkembangnya batik kayu di Krebet.

Pada saat ini di Sentra Industri Kecil Menengah Krebet telah berdiri Koperasi Sidokaton yang beranggotakan 57 Anggota. Disperindagkop pada tahun ini telah menmfasilitasi penyusunan katalog produk dan Video Profil sebtra yang bersifat informatif. Diharapkan dengan video profil sentra dapat digunakan sebagai sarana pengenalan produk batik kayu dan keunikannya kepada khalayak umum di dalam negeri maupun luar negeri.

Adanya dukungan Disperindagkop Kabupaten Bantul, diharapkan sentra industri batik kayu Krebet bisa berkembang lebih pesat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengerajin batik kayu Krebet. Dengan pengembangan yang baik diharapkan dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal dan juga pembinaan generasi pengerajin batik kayu Krebet dapat berjalan baik. Sehingga batik kayu krebet dapat dikenal dan dinikmati sebagai sebuah hasil kerajinan asli Bantul yang memiliki nili seni tinggi dan patut untuk dikoleksi dan dibanggakan. 

Sejarah Kerajinan Batik Kayu
Asal Mula
Warga Dusun Krebet dengan keadaan geografisnya yang berupa perbukitan berkapur memenuhi kebutuhan hidup dari sektor pertanian. Sekitar tahun 1970-an sebagian kecil masyarakat dusun krebet mencari pekerjaan lain selain bertani, salah satunya adalah membuat kerajinan berbahan baku kayu seperti irus, siwur, beruk dan pisau, meski saat itu hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Dusun Krebet. Kerajianan kayu tersebut kemudian dipasarkan di desa-desa sekitar demi menambah penghasilan disela-sela bertani. Bentuk kerajinan kayu dan proses pembuatan yang sederhana membuat kerajinan kayu tersebut belum mempunyai daya jual tinggi dan membatasi proses penjualan. Meskipun sederhana, kerajinan tersebut merupakan kerajinan pertama yang ada di Dusun Krebet.

Kisah Bapak Gunjiar (65) merupakan awal perkembangan konsep kerajinan kayu yang paling mendasar, sekita tahun 1972-an ia menggembangkan bentuk-bentuk lain yang lebih membutuhkan detai tinggi, salah satunya membuat patung semar. Pada saat pameran, banyak pengunjung yang menyukai kerajinan hasil karya Gunjiar yang inovatif, mengingat beliau belajar ukir secara otodidak. Hingga suatu saat ada seseorang datang dan memesan sebuah topeng, hal tersebut membuat Gunjiar merasa tertantang dan memutuskan untuk nyantrik/magang ditempat Pak Warno Waskito seorang pengerajin topeng yang sudah terkenal dalam dunia seni pertunjukan, khususnya kesenian yang menggunakan topeng di Yogyakarta, dan akhirnya tpeng pesanan dapat ia selesaikan dengan baik.

Pengerajin lain dan juga asli warga dusun krebet adalah Bapak Kemiskidi, ia adalah pengerajin sekaligus pemilik sanggar Peni. Kemiskidi menimba ilmu membuat topeng kayu ke Bapak Warno Waskito lalau menggembangkan kerajinan topeng dan memasarkannya sendiri sehingga hasil penjualan kerjainan buatannya ia dapat melanjutkan pendidikan ketingkat SMA. Kemiskidi pun mampu bertahan dan menggembangkan usahanya sanggar Peni yang mampu menyerap 50 tebaga pengerajin saat ini.

Lain lagi kisah Bapak Anton Wahono, seorang pengerajin asli dari Dusun Krebet, ia pemilik sanggar Punokawan yang dahulu merupakan pengerajin wayang kulit. Berekal kemampuan menyungging, ia membuka usaha produksi wayang kulit. Pada tahun 1988 pemerintah mempunyai kebijakan baru bahwa kulit mentah dapat diekspor, sehingga kulit didalam negeri semakin sulit didapat dan mahal. Sulitnya mendapatkan bahan kulit dengan kualitas bagus mempengaruhi harga jual kerajinan wayangnya. Anton Wahono mengganti usahanya dengan memproduksi wayang klithik yang terbuat dari kayu. Kesuksesan mengelola hasil produksinya, Anton Wahono brhasil dalam meraih gelar sarjana pada Jurusan Sosiologi FISIP. Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Sekitar tahun 1980-1985, kerajinan belum begitu dimiati oleh masyarakat Krebet sebagai mata pencaharian utama. Sanggar-sanggar yang ada saat itu masih sedikit. Seiring perjalanan waktu permintaan pasar aan kerajinan dari kayu mulai meningkat, barulah ada beberapa warga yang mulai bekerja sebagai buruh perajian di dua sanggar ini yaitu sanngar Peni dan sanggar Punokawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Desa Wisata Krebet Designed by Templateism | Blogger Templates Copyright © 2014

Diberdayakan oleh Blogger.